SMILING

Kisah ini saya dapatkan dari teman saya efix wahyu, alumni Arsitektur 90 UNDIP semarang yang juga dia dapatkan dari temannya (SEMOGA BERMANFAAT):

Dari:
"Catharina"
Kepada:
lukas@p2k.gramedia.com, efix_wahyu@yahoo.com, retno_wratsangka@yahoo.com, dm_yayas@yahoo.co.id


>Date: Wednesday, October 8, 2008, 3:27 AM
> Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis
> alumni
> Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah
> bermukim di sana.
> Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan
> seumur hidup.
>================================================================================
>
> Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja
> menyelesaikan
> kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah
> Sosiologi.
> Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya
> harapkan
> setiap orang memilikinya.
> Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama
> 'Smiling.'
> Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan
> senyumnya
> kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan
> mendokumentasikan reaksi
> mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk
> mempresentasikan
> didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah
> bersahabat dan
> selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas
> ini
> sangatlah mudah.
>
> Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami
> saya dan anak
> bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk
> pergi
> kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus.
> Pagi itu udaranya
> sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk
> dalam antrian,
> saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si
> Bungsu sambil
> mencari tempat duduk yang masih kosong.
>
> Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani,
> mendadak
> setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan
> bahkan orang
> yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar
> dari antrian.
>
> Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik
> dan melihat
> mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah
> saya
> membaui suatu 'bau badan kotor' yang cukup
> menyengat, ternyata tepat
> di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang
> sangat dekil!
> Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.
>
> Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap
> laki-laki yang
> lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia
> sedang
> 'tersenyum' kearah saya. Lelaki ini bermata biru,
> sorot matanya tajam,
> tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya,
> seolah ia
> meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya'
> ditempat itu.
>
> Ia menyapa 'Good day!' sambil tetap tersenyum dan
> sembari menghitung
> beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang
> akan dipesan.
> Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika
> teringat oleh
> saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki
> kedua sedang
> memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang
> temannya.
> Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita
> defisiensi
> mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah
> 'penolong'nya. Saya
> merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata
> dalam antrian
> itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga
> tiba2 saja
> sudah sampai didepan counter.
>
> Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa
> yang ingin
> saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan
> duluan.
> Lelaki bermata biru segera memesan 'Kopi saja, satu
> cangkir Nona.'
> Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu
> dibeli oleh
> mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin
> duduk di
> dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus
> membeli
> sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin
> menghangatkan
> badan.
>
> Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya
> sempat
> terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah
> mereka
> mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya,
> yang
> hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang
> bersamaan,
> saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran
> itu juga
> sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua
> 'tindakan'
> saya.
>
> Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa
> saya untuk
> ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya
> tersenyum
> dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan
> saya) dalam
> nampan terpisah.
>
> Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas
>lain yang
> ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya
> ke
> meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya
> membawa nampan
> lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah
> dipilih kedua
> lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi
> makanan itu
> di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas
> punggung telapak
> tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap
> 'makanan ini
> telah saya pesan untuk kalian berdua.'
>
> Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata
> itu mulai
> basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata 'Terima
> kasih banyak,
> nyonya.'
> Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk
> bahunya saya
> berkata 'Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini
> untuk kalian,
> Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan
> sesuatu
> ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada
> kalian.'
> Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan
> haru dan
> memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak.
> Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.
>
> Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan
> meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak
> saya, yang
> tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk
> suami saya
> mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata
> 'Sekarang
> saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku,
> yang asti,
> untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan
> anak-2ku! '
> Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu
> kami benar2
> bersyukur dan enyadari,bahwa hanya karena
> 'bisikanNYA' lah kami telah
> mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat
> sesuatu bagi orang
> lain yang sedang sangat membutuhkan.
>
> Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu
> yang akan
> meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu
> lainnya, mereka
> satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin
> 'berjabat
> tangan' dengan kami.
> Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan
> saya, dan
> berucap 'Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang
> mahal bagi kami
> semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi
> kesempatan
> olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu
> contohkan tadi
> kepada kami.'
>
> Saya hanya bisa berucap 'terimakasih' sambil
> tersenyum.
> Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk
> melihat
> kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit'
> yang menghubungkan
> bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil
> tersenyum,
> lalu melambai-2kan tangannya kearah kami.
> Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang
> telah saya
> lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2
> 'tindakan'
> yang tidak pernah terpikir oleh saya.
> Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa
> 'kasih sayang'
> Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!
>
> Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan
> 'cerita' ini
> ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada
> dosen saya. Dan
> keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil
> dosen saya
> ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata,
> 'Bolehkah saya
> membagikan ceritamu ini kepada yang lain?' dengan
> senang hati saya
> mengiyakan.
> Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari
> kelas untuk
> membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun
> mendengarkan
> dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah
> menjadi sunyi.
> Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam
> membawakan
> ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah
> itu seolah
> ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu
> berlangsung, sehingga
> para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
> diantaranya
> datang memeluk saya untuk
> mengungkapkan perasaan harunya.
>
> Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja
> menutup ceritanya
> dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir
> paper saya.
> 'Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan
> mengetahui betapa
> 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu
> itu.'
>
> Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan'
> diri saya untuk
> menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku,
> anakku, guruku,
> dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir
> saya sebagai
> mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang
> tidak pernah
> saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu:
> 'PENERIMAAN TANPA
> SYARAT.'
>
> Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa
> diresapi
> oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat
> membaca dan
> memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran
> bagaimana
> cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT
> HARTA-BENDA YANG
> KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN
> MILIK KITA,
> DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!
>
> Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati
> anda,
> teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada
> 'malaikat'
> yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang
> membaca cerita
> ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu
> (sekecil apapun)
>lagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!
> Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi
>dari
>kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang
> akan meninggalkan
> JEJAK di dalam hatimu.
>
> Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi
> untuk
> berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu!
> Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang
> yang
> kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak!
> Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan
> semuanya!
> Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan
> bagi
> mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam
> sarang
> mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa
> mendapatkannya.
>
> Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja
> alam, tetapi
> orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya
> seni.
> Belajarlah dari
> PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup
> lama untuk
> bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri

Nabi Sulaiman AS dan Seekor Semut

Suatu hari Baginda Sulaiman AS sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman AS terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya, Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab, Ini adalah kurma yang Allah SWT berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman AS kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu. Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman AS. Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman AS datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman AS bertanya kepada si semut, hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah SWT yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi karena engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak), jawab si semut.
Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan 'Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".

Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Utsman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

'Ali r.a. berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Fatimah r.ha.berkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yangtak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Rasulullah SAW berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Malaikat Jibril AS berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Allah SWT berfirman, " Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya danjuga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, "saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu. Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, "wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.
Nabi Musa AS suatu hari sedang berjalan-jalan melihat keadaan ummatnya. Nabi Musa AS melihat seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun. Orang itu adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak ahli ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS, Wahai Musa AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun tanpa melakukan perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT akan meletakkanku di Sorga-Nya?. Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah. Nabi Musa AS mengabulkan permintaan orang itu. Nabi Musa AS kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT memberitahukan kepadanya di mana ummatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar Neraka-Ku yang paling dalam". Nabi Musa AS kemudian mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah difirmankan Allah SWT kepadanya. Ahli ibadah itu terkejut. Dengan perasaan sedih ia beranjak dari hadapan Nabi Musa AS. Malamnya ahli ibadah itu terus berfikir mengenai keadaan dirinya. Ia juga mulai terfikir bagai mana dengan keadaan saudara-saudaranya, temannya, dan orang lain yang mereka baru beribadah selama 200 tahun, 300 tahun, dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya, di mana lagi tempat mereka kelak di akhirat. Keesokan harinya ia menjumpai Nabi Musa AS kembali. Ia kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Musa AS, aku rela Allah SWT memasukkan aku ke dalam Neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam Neraka maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu Neraka tertutup oleh tubuhku jadi tidak akan ada seorang pun akan masuk ke dalamnya". Nabi Musa AS menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepada ummatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di Surga-Ku yang paling tinggi".
Imam Ahmad telah memberitakan dari Humaid bin Hilal, dia berkata: Ada seorang lelaki yang sering berulang-alik di kampung kami, lalu dia membawa cerita yang aneh-aneh kepada orang-orang kampung. Dia bercerita: Suatu ketika aku datang ke Madinah dalam rombongan dagang, lalu aku menjual semua barang-barang yang aku bawa. Aku berkata kepada diriku: Mengapa aku tidak pergi kepada orang lelaki yang membawa ajaran baru itu, barangkali aku dapat mendengar berita-berita yang aneh untuk aku bawa kembali bersamaku?! Aku pun pergi kepada Rasulullah SAW untuk bertanya sesuatu, lalu Beliau menunjuki arah sebuah rumah, katanya: Ada seorang wanita yang tinggal di rumah itu . Pernah dia mengikut tentera Islam berjihad, dan ditinggalkannya 12 ekor kambingnya dan sebuah alat tenunan yang digunakannya untuk menenun pakaian. Apabila dia kembali dari berjihad, didapati kambingnya hilang seekor, dan alat tenunannya pun hilang. Dia merasa sedih atas kehilangannya itu. Maka dia pun mengangkat kedua belah tangan berdoa kepada Tuhannya dengan penuh kesungguhan, katanya:

"Ya Tuhanku! Engkau telah berikan jaminan bahwa siapa yang keluar berjihad pada jalanmu, Engkau akan pelihara harta bendanya, dan sekarang aku telah kehilangan seekor kambing, dan alat tenunanku. jadi aku minta ganti kambing yang hilang dan alat tenunanku itu!"

Rasulullah SAW terus menceritakan betapa sungguh-sungguhnya dia berdoa dan memohon kepada Tuhannya, sehingga pada esok harinya dia mendapati di pintu rumahnya kambingnya yang hilang itu dengan seekor kambing lagi bersamanya. Begitu juga dia melihat alat tenunannya ada di situ dengan satu alat tenun yang lain. Itulah ceritanya, kata Rasulullah SAW dan jika engkau mau, pergilah kepadanya di rumah itu, dan tanyalah dia cerita itu! "Tidak", jawabku, "akan tetapi aku percaya semua yang engkau katakan itu!"
(Majma'uz-Zawaid 5:277)
Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fathimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis". Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta 'aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah". Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.

Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang". Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".
Rasulullah SAW bergaul dengan semua orang. Baginda menerima hamba, orang buta, dan anak-anak. Baginda bergurau dengan anak kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua. Akan tetapi Baginda tidak berkata kecuali yang benar saja.
Suatu hari seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata,
"Ya Rasulullah! Naikkan saya ke atas unta", katanya.
"Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta", kata Rasulullah SAW.
"Ia tidak mampu", kata perempuan itu.
"Tidak, aku akan naikkan engkau ke atas anak unta".
"Ia tidak mampu".
Para sahabat yang berada di situ berkata,
"bukankah unta itu juga anak unta?"

Datang seorang perempuan lain, dia memberitahu Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit. Dia memanggilmu".
"Semoga suamimu yang dalam matanya putih", kata Rasulullah SAW.
Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia pun membuka mata suaminya. Suaminya bertanya dengan keheranan, "kenapa kamu ini?".
"Rasulullah memberitahu bahwa dalam matamu putih", kata istrinya menerangkan. "Bukankah semua mata ada warna putih?" kata suaminya.
Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam syurga". "Wahai ummi fulan, syurga tidak dimasuki oleh orang tua".
Perempuan itu lalu menangis.
Rasulullah menjelaskan, "tidakkah kamu membaca firman Allah ini,

Serta kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya".

Para sahabat Rasulullah SAW suka tertawa tapi iman di dalam hati mereka bagai gunung yang teguh. Na'im adalah seorang sahabat yang paling suka bergurau dan tertawa. Mendengar kata-kata dan melihat gelagatnya, Rasulullah turut tersenyum.
Ibnu Asakir telah mengeluarkan dari Az-Zuhri dia telah berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW telah mengutus Sa'ad bin Abu Waqqash ra. untuk mengetuai suatu pasukan ke suatu tempat di negeri Hijaz yang dikenal dengan nama Rabigh. Mereka telah diserang dari belakang oleh kaum Musyrikin, maka Sa'ad bin Abu Waqqash ra. mengeluarkan panah-panahnya serta memanah mereka dengan panah-panah itu. Dengan itu, maka Sa'ad bin Abu Waqqash ra. menjadi orang pertama yang memanah di dalam Islam, dan peristiwa itu pula menjadi perang yang pertama terjadi di dalam Islam. (Al-Muntakhab 5:72)

Ibnu Asakir mengeluarkan dari Ibnu Syihab, dia berkata: Pada hari pertempuran di Uhud Sa'ad bin Abu Waqqash ra. telah membunuh tiga orang Musyrikin dengan sebatang anak panah. Dipanahnya seorang, lalu diambilnya lagi panah itu, kemudian dipanahnya orang yang kedua dan seterusnya orang yang ketiga dengan panah yang sama. Ramai para sahabat merasa heran tentang keberanian Sa'ad itu. Maka Sa'ad berkata: Nabi SAW yang telah memberikanku keberanian itu, sehingga aku menjadi begitu berani sekali. (Al-Muntakhab 5:72)

Bazzar telah mengeluarkan dari Abdullah bin Mas'ud ra. dia berkata: Pada hari pertempuran di Badar, Sa'ad bin Abu Waqqash ra. telah menyerang musuh dengan berkuda dan dengan berjalan kaki. (Majma'uz Zawa'id 6:82)
Pada suatu hari Rasulullah SAW berbicara dengan seorang lelaki dari desa. Beliau SAW menceritakan bahwa ada seorang lelaki penghuni syurga meminta kepada Allah untuk bercocok tanam, kemudian Allah bertanya kepadanya bukankah Allah telah berikan semua perkara yang dia perlukan? Lelaki itu mengakui, tetapi dia suka bercocok tanam. Lalu dia menabur biji benih. Tanamn itu langsung tumbuh. Kesemuanya sama. Setelah itu dia menuainya. Hasilnya dapat setinggi gunung. Allah berfirman kepadanya, "Wahai anak Adam, ia tidak mengenyangkan perut kamu".

"Demi Allah, orang itu adalah orang Quraisy atau pun Anshar karena mereka dari golongan petani. Kami bukan dari golongan petani", kata orang Badui itu. Rasulullah SAW tertawa mendengar kata-kata orang badui itu.